Narasi dalam The Fall bermula dari satu kata, yaitu ‘jatuh’. Seorang gadis kecil bernama Alexandria (yang diperankan dengan sangat sangat baik oleh Catinca) harus dirawat di rumah sakit setelah jatuh dari pohon. Roy (aktor teater Lee Pace) juga jatuh ketika sedang bekerja sebagai stuntman. Pertemuan Roy dan Alexandria pun diawali dengan jatuhnya surat Alexandria ke tangan Roy secara tidak sengaja.
Setelah bertemu dengan Alexandria, Roy kemudian merencanakan sesuatu untuk membuat hidupnya lebih ‘baik’. Ia memanfaatkan sebuah dongeng hasil imajinasinya mengenai gerombolan bandit sebagai alat negosiasi dengan Alexandria. Dengan terus bercerita, Roy berharap Alexandria bisa melakukan apa yang ia minta.
Inti cerita The Fall memang adalah perjuangan hidup Roy, akan tetapi dongeng Roy berperan penting dalam film ini. Dongeng tersebut menjadi pengikat antara Roy dan Alexandria. Dongeng itu juga yang membuat narasi film terus bergulir. Yang menarik adalah dongeng dalam The Fall juga berkorelasi dengan kehidupan nyata, seperti yang bisa anda saksikan sendiri.
Dari segi visualisasi, jika mata bisa merasakan orgasme, The Fall akan membuat anda merasakan sensasi tersebut. Dari segi latar tempat, pemilihan wilayah-wilayah yang terkesan magis seperti India, Argentina dan Bali adalah keputusan yang tepat. Selain indah, tempat-tempat tersebut membangun atmosfer surealis sekaligus mencekam, seiring dengan perkembangan dongeng Roy yang semakin suram. Dan, semua tempat indah tersebut benar-benar hadir di bumi, bukan sekadar efek komputer.
Membicarakan The Fall, tentu saja saya harus menyinggung aspek kostum. Malah kostum-lah yang membuat saya tertarik untuk menonton The Fall. Bandit-bandit dalam dongeng Roy tidak berpakaian lusuh dan kumal. Mereka tampil anggun, agung dan juga gagah dengan caranya sendiri-sendiri. Rancangan kostum yang benar-benar maksimal.
Tapi kemudian, apalah arti sinematografi dan kostum yang bagus tanpa akting yang memukau? Untungnya, The Fall juga kuat dari segi akting. Catinca berperan sangat alamiah. Tarsem membiarkan kepolosan Catinca muncul begitu saja di kamera, seperti menguap dan menggaruk-garuk hidung. Bukan hanya mengekspos kepolosan Catinca, Tarsem juga berhasil mengeluarkan ekspresi sedih Catinca yang wajar. Tidak termehek-mehek tetapi tetap menyentuh. Penampilan Lee Pace sebagai Roy dan bos bandit juga patut diacungi jempol. Pengalaman Pace sebagai aktor panggung memberinya kemampuan berakting ‘sok dramatis’ sebagai bos bandit dan kewajaran ekspresi laki-laki yang putus asa sebagai Roy. Chemistry di antara Roy dan Alexandria terbangun dengan sangat baik. Kasih sayang yang tak (atau belum sempat) terucapkan di antara keduanya terasa sekali.
Menonton The Fall membawa saya pada makna betapa cerita berperan penting dalam kehidupan manusia. Bahwa manusia tidak akan bisa terlepas dari cerita. Mungkin kita harus merenungi kata-kata Muriel Rukeyser berikut ini: ‘The universe is made of stories, not atoms’.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
aduuuuuuuuuuuuuuuuhhh setuju banget yu sama review lo ini! gue suka semuanya: kostum, sinematografi, editing dan cut adegan, karakter, akting, cerita... detil banget. one of my all-time fave! :)
Yes yes this film is soo perfect!
I am going to watch it again!
Posting Komentar