Seorang teman (yang mungkin juga sedang membaca blog ini) pernah berkata bahwa cita-citanya dalah menjadi ibu rumah tangga yang baik. Mungkin banyak yang mencibir mendengarnya karena ibu rumah tangga lekat dengan imej perempuan yang tidak punya pendidikan tinggi dan keahlian untuk berkarir di luar rumah.
Saya sendiri mengagumi cita-cita teman saya tersebut. Menjadi ibu rumah tangga itu tidak gampang, sudah sangat jelas. Seorang ibu rumah tangga harus mempunyai keahlian dalam berbagai bidang: keuangan (dalam mengatur pengeluaran sehari-hari), kesehatan (dalam mengatur pola makan keluarga) dan psikologi (dalam mengasuh anak yang banyak maunya).
Entah kenapa sampai saat ini banyak orang masih meremehkan posisi ibu rumah tangga.
Seorang feminis bernama Shulah Firestone mengatakan bahwa biologi perempuan (dalam kaitannya dengan proses melahirkan) bersifat membatasi. Muncul-lah ide teknologi reproduksi sehingga perempuan tidak harus susah-susah mengandung selama sembilan bulan.
Saya cenderung berpikir untuk merayakan tubuh saya sebagai perempuan. Tuhan memberikan rahim bagi perempuan sebagai hal yang istimewa (walau terkadang masyarakat patriarkal menjadikannya alasan untuk mendomestifikasi perempuan). Anatomi bukanlah musibah apabila kita menyadari potensinya dan mengendalikannya dengan penuh kesadaran.
Tapi tentu saja, pada akhirnya menjadi ibu adalah suatu pilihan karena tiap perempuan berhak mengatur sistem reproduksinya sendiri.
Selasa, 18 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar