Kamis, 30 Oktober 2008

His Dark Materials Trilogy



Membaca trilogi His Dark Materials adalah pengalaman yang mengesankan. Dengan cerdas, Phillip Pullman membawa pembaca ke sebuah dunia di mana jiwa manusia hidup di luar tubuh, beruang es mempunyai kerajaan di kutub, zeppelin adalah kendaraan tercanggih dan para penyihir melintasi langit. Terdengar campur aduk? Ya memang, tapi hal itulah yang membedakan dunia Lyra dengan dunia-dunia fantasi lainnya seperti dunia Narnia atau Lord of The Rings. Dunia (atau tepatnya dunia-dunia) dalam His Dark Materials pada akhirnya akan bercampur aduk dan batas ruang pun akan luntur.
His Dark Materials bukanlah fantasi biasa, karena di dalamnya, fisika dan agama menjadi topik yang signifikan dan pemicu bergulirnya cerita. Lebih spesifik, pemberontakan terhadap Otoritas yang dianggap telah sewenang-wenang. Isu inilah yang menjadi alasan beberapa kaum agamawan menganggap His Dark Materials
menyebarkan kebencian terhadap agama tertentu. Saya sendiri merasa tulisan Pullman tidak bertendensi untuk menyampaikan hal tersebut, melainkan menyodorkan suatu perspektif baru tentang agama. Pullman memberi suatu interpretasi baru tentang agama, utamanya isu Dosa Asal dan Adam dan Hawa. Poin ini mengingatkan saya akan anime Evangelion.
His Dark Materials diperkuat oleh tokoh-tokoh dengan karakter yang berkesan. Lyra adalah heroine yang tidak sempurna tapi juga sempurna. Will adalah pejuang sejati yang patut disayang. Mrs. Coulter yang menawan sekaligus mematikan. Kemudian Lord Asriel, si pemberontak terhadap Otoritas, adalah laki-laki dingin dengan ambisi besar. Belum lagi Iorek, Serafina dan Lee Scoresby. Karakter adalah unsur penting dalam fiksi, dan Pullman menciptakan tokoh-tokoh dengan cermat sehingga setiap tokoh mewarnai dunia His Dark Materials dengan kuas dan caranya sendiri. Banyak sekali yang bisa dikatakan mengenai His Dark Materials, baik dari segi hiburannya maupun dari segi filosofis.
Kalau harus disimpulkan, His Dark Materials adalah salah satu fantasi terbaik yang pernah saya baca. Menegangkan, penuh kesan dan inspiratif.

Sayangnya, adaptasi Golden Compass bisa dikatakan mengecewakan. Dibandingkan The Subtle Knife dan Amber Spyglass, memang Golden Compass adalah yang paling ringan. Namun, tetap saja Golden Compass mempunyai kompleksitas yang menjadi unsur utama trilogi ini. Filmnya sendiri hanya menangkap petualangan Lyra menyelamatkan Roger dan menyisihkan unsur-unsur yang sensitif, seperti unsur agama. Target film ini tentu saja adalah anak-anak sehingga cerita dibuat menjadi lebih sederhana (dan akhir bahagia!). Saya sendiri menyayangkan karena banyak sekali pemikiran yang menarik dalam trilogi His Dark Materials yang bisa digali.
Yang membuat film ini sedikit kuat adalah akting Nicole Kidman sebagai Mrs Coulter. Rambut pirangnya bukan masalah (di buku Mrs Coulter berambut hitam kelam) karena Kidman dengan elegan menampilkan Mrs Coulter yang anggun tapi berbisa. Daniel Craig juga cocok menjadi Lord Asriel dengan wajahnya yang dingin tersebut,
Namun porsi kemunculan yang sedikit tidak memberikannya kesempatan untuk mengeksplorasi karakter Lord Asriel. Pada akhirnya, pantaskah Golden Compass ditonton? Tidak begitu.

Tidak ada komentar: